Sejarah Singkat Pangeran Walangsungsang

Pangeran walangsungsang (juga dikenal sebagai Ki sumadullah, Haji Abdullah Iman, Pangeran kakrabwana dan Mbah Kuo sangkan) [4] adalah putra Raja Siliwangi dari NI Subang larang.[5] Pangeran walangsongsang memiliki dua adik laki-laki, Nyai mas Rara santang dan Pangeran Raja Sagara. Hal ini diyakini bahwa tiga anak dibangun biddukuhan Cirebon (karuppan Nagari).[6]

Pangeran walangsongsang, menurut skenario mirtsenga, untuk keluar dari Keraton karena kecewa atas perlakuan Prabu Siliwangi Terhadap Ibunya, Ia Bersama Rara santang, kemudian pergi dan akhirnya menjadi pelopor berdirinya Cirebon, Pangeran walangsongsang peradasarquan sejumlah narasumber menikahi dua orang perempuan, memiliki 10 orang anak, yaitu 8 orang perempuan dan 2 orang laki-laki. Istri Walangsongsang adalah nemas Endang Julis yang melahirkan putri bakongwati yang kemudian menikah dengan Sunan Gunung Jati.[5]

Perjalanan ke Mekah
Pada 1448 [B] atas saran Syekh Datuk Kav, walangsongsang dan Lara santang berlayar ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji. Kota Suci Mekah kemudian berada di bawah perlindungan Kesultanan Mamluk yang ditempatkan di Mesir. Para bangsawan Sunda tinggal di Mekah selama tiga bulan, di bawah bimbingan Syekh bayanullah (saudara dari gua Syekh Datuk). Sementara di Mekkah, walangsongsang dan Lara santang mengambil nama Arab, yaitu Haji Abdullah Iman dan serifa madeem. Lara santang kemudian menikah dengan seorang pangeran atau bangsawan setempat bernama Sharif Abdullah [8], dan perbutrakan Sharif Hidayatullah (kemudian menjadi tokoh berpengaruh di Jawa) diharapkan lahir pada tahun yang sama. Tampaknya dia menetap di sana bersama suami dan putranya, sementara walangsongsang kembali ke Cirebon.

Periode pemerintahan
Walangsongsang Kuo memerintah Cirebon untuk menggantikan ke Gedi alang alang. Cirebon kemudian diproklamasikan sebagai Nagari [C], dimana dia sepenuhnya memasukkan Nagari Singapura[d] ke dalam otoritasnya. Dia juga menyatukan Nagari di sekitarnya, yaitu surantaka, wanagiri dan jabora di Kesultanan Cirebon. Sejak itu, walangsongsang dikenal dengan nama barunya, Pangeran kakrabwana. Pada masa pemerintahannya, wilayah Cirebon berbatasan dengan semanok (indramayo) di Barat, rajagaloh (magalingka), sungala (Kuningan), dayohluhur dan pasirluhur (Cilacap banyomas) di selatan, baguuhan (Tegal Pemalang) di Timur, dan Laut Jawa di utara. Pelabuhan utamanya adalah Muara Jati. Kakrabwana tetap berkuasa di bawah Kerajaan Galle. Dia mengirim upeti tahunan (bolopakti) ke Tohan (“Yang Dipertuan”) atau raja Galle yang juga kakeknya, dewa nuyti. Sang kakek mengirim ekspedisi ke Cirebon untuk secara resmi menunjuk cakrabwana sebagai raja daerah dengan gelar tumenjung Sri Mangana. Misi ini dipimpin oleh tumenjung jagabaya dan Radin Kian santang (adik kakrabwana). Kian santang kemudian menetap di Cirebon menemani saudaranya.[9]

BACA JUGA  Sejarah Keraton Kasepuhan

Syarif Hidayatullah
Pada 1474, Sharif Hidayatullah pergi ke Jawa untuk memberitakan Islam. Dia sebelumnya belajar dengan sejumlah sarjana Arab di Kesultanan Mamluk, terutama di Mekah dan Baghdad. Dalam perjalanan ke Jawa, dia berhenti di Gujarat dan Pasay. Di Pasay, ia bertemu Maulana Ishaq, ayah dari Sunan Giri.

Setahun kemudian, pada tahun 1475, Sharif Hidayatullah tiba di Jawa. Mendarat di Banten, ia rupanya bertemu Sinan Ampel, seorang ulama yang merupakan anggota Dewan walisanga. Dia membawanya ke Bizantium yang dipimpinnya ambladenta (Surabaya) dan memotivasi dia sebagai pengkhotbah. Ia akhirnya diangkat sebagai anggota walisanga, dengan tugas menyebarkan agama Islam di Tatar Sunda (Jawa Barat). Setelah itu, Sharif Hidayatullah akhirnya berlayar ke Cirebon, ditemani oleh sekelompok pelaut India yang dipimpin oleh Dipati Keeling, yang masuk Islam dan melayaninya.[11] setibanya di Cirebon, ia diterima oleh pamannya kakrabwana. Oleh paman (awak), Sharif Hidayatullah diberi gelar Syekh Maulana Jati. Dia menetap di wilayah gunungjati, menjadi pengkhotbah Muslim utama di sana menggantikan Syekh Datuk kahvi (yang sudah lama meninggal). Dia juga tinggal sebentar di Banten, di mana ia berhasil dalam Islamisasi Bupati kaunganten dan menikahi putrinya Nyai Ratu kaunganten.[12] pada tahun yang sama, Maharaja Sunda, Niskala dan wastukana meninggal setelah memerintah selama 104 tahun. Setelah kematiannya, Kerajaan Sunda kembali terbagi menjadi dua, Dengan Sunda (dikapitalisasi dalam bakwan) di bawah susuktungal atau sang halyungan dan jaloh (dikapitalisasi dalam Kwali) di bawah Dewa Niskala atau Raja angalarang.

Pernikahan Sharif Hidayatullah dengan Dewi bakongwati
Pada tahun 1478, Sharif Hidayatullah menikahi Dewi bakongwati, putri Pangeran kakrabwana (dengan kata lain, sepupu Sharif Hidayatullah). Pangeran sabakengking lahir.[12] Dia adalah putra sheriff dengan Ratu kaunganten, yang pada abad berikutnya menjadi sosok berpengaruh yang menemani ayahnya. Pada tahun yang sama, Kesultanan Demak dinyatakan sebagai negara merdeka di Jawa Tengah oleh Raden Patah dan walisanga, setelah kudeta pecah di Majapahit yang menewaskan Bahri kertabumi, ayah dari Raden Patah.

BACA JUGA  Sejarah Kabupaten Cirebon

Turun tahta Pangeran kakrabwana
Pada tahun 1479, Sharif Hidayatullah Tumenjong Cirebon diangkat (dengan dukungan Wali Sanja), menggantikan pamannya, yang secara sukarela mengundurkan diri.[13] [14] dia tetap pengikut sebagai raja wilayah galwah dan mengirimkan upeti kepada kawali, setidaknya sampai tiga tahun kemudian. Sementara itu, Pangeran kakrabwana kemudian hidup sebagai pengembara, meskipun ia kadang-kadang menemani keponakannya dalam memerintah di Cirebon. Pada tahun yang sama, Sharif Hidayatullah pergi ke Demak atas undangan Radin batah dan Para Wali. Mereka juga mengangkat Sharif Hidayatullah dalam peran banatagama Rasul Eng tanah basundan (“penyiar agama Nabi di Tanah Sunda”). Sejak itu, hubungan antara Cirebon dan Demak mulai terjalin. Kemudian Sharif Hidayatullah juga ikut serta dalam pembangunan Masjid Dimak Agung [15], dengan mendirikan pilar besar sebagai salah satu dari empat pilar Masjid.