Sejarah Singkat Masa Kesultanan Mataram

Sejarah pendek masa Kesultanan Mataram

Di dasar kepemimpinan Sultan Agung( 1613- 1645), Kesultanan Mataram menggapai masa keemasannya. Pada dini abad ke- 17, Mataram pada waktu itu telah jadi kerajaan besar serta kokoh di Jawa serta nusantara. Tetapi di Tepi laut Barat Jawa terdapat kekuatan yang tidak ditaklukkan oleh Mataram, Kesultanan Banten.

pada tahun 1619, industri perdagangan Belanda di Hindia Timur( Verenigde Oost- Indische Compagnie, VOC), yang lebih dahulu berbasis di Ambon, sukses merebut Jayakarta di sebelah barat Pulau Jawa, tidak ditaklukkan oleh Mataram, setelah itu berubah nama jadi Batavia serta mempunyai kantor pusat di situ. Kedatangan VOC di Batavia menyulitkan Mataram buat merebut Banten.

Sumedang Larang, yang pada waktu itu diperintah oleh Raden Suriadiwangsa( 1601- 1625) ataupun diucap Pangeran Rangga Gempol Kusumadinata( Rangga Gempol I), Anak Tiri Geusan Ulun Ratu Harisbaya, takut hendak lekas terjalin perluasan Kesultanan Banten ke timur buat memahami sisa daerah Pajajaran. Perihal ini mendesak Suriadiwangsa buat berangkat ke Mataram buat memohon proteksi. Pada tahun 1620, Sumedang melarang aksesi ke Kerajaan Mataram di dasar Sultan Agung. Sultan Agung mengganti nama dari Sumedang Larang jadi Priangan, yang terdiri dari Sumedang Larang, Pamanukan, Ciasem, Kawung Sukapura, Ukur( Bandung), Limbangan serta Cianjur. Daerah Priangan jadi Kabupaten Wedana, diawasi oleh Bupati Wedana( kepala Bupati), serta Pangeran Suriadiwangsa jadi bupati awal Sumedang serta Bupati Wedana Priangan( 1620- 1625).

Pada tahun 1624, Sultan Agung Rangga memerintahkan Gempol buat mengambil Sampang di Madura. Sehabis sukses merebut Sampang, Pangeran Dipati Rangga Gempol Kusumadinata wafat di Mataram. Jabatan Bupati Wedana Priangan diserahkan kepada saudaranya Rangga Gede( 1625- 1633).

BACA JUGA  Sejarah Pendek Kerajaan Pajajaran

Kala sebagian pasukan Kabupaten Sumedang melarang keberangkatan ke Sampang, pasukan Kesultanan Banten melanda Kabupaten Sumedang. Rangga Gede tidak sanggup menahan serbuan serta melarikan diri. Sultan Agung marah serta merasa Pangeran Rangga Gede tidak dapat mengatur pemerintahan. Selaku sanksi, pangkat Bupati Wedana Pangeran Rangga Gede dicopot serta Rangga Gede dipenjara di Mataram. Selaku penggantinya, Dipati Ukur dianugerahi pangkat Bupati Wedana Priangan.