Sejarah Keraton Kasepuhan

Sejarah Keraton Kasepuhan
Keraton Kasepuhan merupakan keraton yang terletak di kelurahan Kesepuhan, Lemahwungkuk, Cirebon. Arti di tiap sudut arsitektur keraton ini juga populer sangat memiliki. Taman depan keraton ini dikelilingi tembok bata merah serta ada pendopo di dalamnya.[1]

Keraton Kasepuhan merupakan bangunan yang dulu bernama keraton Pakungwati[2] yang sempat jadi pusat pemerintahan Kasultanan Cirebon.

Keraton ini mempunyai museum yang lumayan lengkap serta berisi barang pusaka serta lukisan koleksi kerajaan. Salah satu koleksi ialah kereta Singa Barong yang ialah kereta kencana Sunan Gunung Jati. Kereta tersebut dikala ini tidak lagi dipergunakan serta cuma dikeluarkan pada masing- masing 1 Syawal buat dimandikan.

Bagian dalam keraton ini terdiri dari bangunan utama yang bercorak putih. Di dalamnya ada ruang tamu, ruang tidur serta singgasana raja.

Sejarah

Keraton Kasepuhan berisi 2 lingkungan bangunan memiliki ialah Dalem Agung Pakungwati yang didirikan pada tahun 1430 oleh Pangeran Cakrabuana[3][4][5][6] serta lingkungan keraton Pakungwati( saat ini diucap keraton Kasepuhan) yang didirikan oleh Pangeran Mas Zainul Arifin pada tahun 1529 Meter.[7] Pangeran Cakrabuana bersemayam di Dalem Agung Pakungwati, Cirebon. Keraton Kasepuhan tadinya bernama Keraton Pakungwati. Istilah Pakungwati berasal dari nama Ratu Dewi Pakungwati binti Pangeran Cakrabuana yang menikah dengan Sunan Gunung Jati. Dia meninggal pada tahun 1549 dalam Mesjid Agung Si Cipta Rasa dalam umur yang sangat tua. Nama ia diabadikan serta dimuliakan oleh nasab Sunan Gunung Jati selaku nama Keraton ialah Keraton Pakungwati yang saat ini bernama Keraton Kasepuhan.[8]

Pada masa kepemimpinan Sultan Sepuh V Sultan Sjafiudin Matangaji, Sultan Sepuh V melaksanakan banyak revisi pada lingkungan Halaman Sari Gua Sunyaragi yang digunakan selaku tempat mengkhusukan diri kepada Allah swt sekalian markas besar prajurit kesultanan serta gudang dan tempat pembuatan senjata, disamping Halaman Sari Gua Sunyaragi, kesultanan Kasepuhan mempunyai markas prajurit yang lain, ialah di desa Matangaji yang saat ini masuk dalam daerah administrasi kecamatan Sumber, kabupaten Cirebon. Kegiatan yang terdapat di Halaman Sari Gua Sunyaragi setelah itu menarik atensi Belanda buat setelah itu menyerangnya, Sultan Sepuh V Sultan Sjafiudin Matangaji juga gugur pada tahun 1786, tidak lama sehabis wafatnya Sultan Sepuh V Sultan Sjafiudin Matangaji, kerabat sultan ialah Pangeran Raja Hasanuddin mengambil alih dirinya buat mengetuai kesultanan Kasepuhan, sedangkan Halaman Sari Gua Sunyaragi cuma tinggal puing- puing akibat penyerangan Belanda.

BACA JUGA  Sejarah Singkat Pangeran Walangsungsang

Pada tahun 1852, Pangeran Adiwijaya yang nanti jadi wali untuk Pangeran Raja Satria, membangun kembali serta menguatkan Halaman air Gua Sunyaragi, ia mempekerjakan seseorang aristek beretnis tionghoa, tetapi setelah itu arsitek tersebut ditangkap serta dituntut berkata seluk- beluk Halaman Sari Gua Sunyaragi kepada Belanda buat setelah itu dibunuh. Terbongkarnya kegiatan di Halaman Sari Gua Sunyaragi membuat Pangeran Adiwijaya memerintahkan kepada para bawahan serta para prajurit buat bersiap mengalami seluruh mungkin yang hendak terjalin, kesimpulannya keputusan diambil buat mengungsikan segala persenjataan serta para prajurit keluar dari Halaman Sari Gua Sunyaragi, sehingga penyerangan Belanda yang terjalin setelah itu tidak memperoleh apa- apa.